Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Juli 2008

Berkelana di Negeri Tak Berwarna

Puisi Pia

Beringsut meneka, setiap jejak sejarah
Talutan nada dari hidung yang kian panjang adalah tanda,
hayat masih kudekap

Saat konfoi ketajaman zaman,
bukanlagi isyarat kekuatan negeri
Hanya ada tuntutan yang jauh dari tuntunan
Mungkin ini pertautan oleh zaman

Merah, kuning, hijau yang semua berubah menjadi tak berwarna,
karena ketiadaan ikhlas dan kejujuran

Inilah awal robohnya bangunan yang kian tua,
Indonesia..


2 juli 2008

Selasa, 01 Juli 2008

Berjejal di Negeri Gelap

Puisi Pia

Hening tak lagi ada
Semua kian sayup namun tetap bergema,
Diantara jejalan manusia yang angkuh

Di negeri ini kian tak kutemui nyata
Amarah yang mendarah terus nengalirkan gelora haus harta
Serakah
Binasah
diantara pertaruhan nyawa

Tersingkir dari medan karena kejujuran
Maju di depan dengan dekapan kebohongan

Negeri kami gelap
pengusanya buta

Negeri ini, memang negeri pecundang
pemerintah pecundang,
hakim pecundang,
jaksa pecundang,
dewan penghancur undang-undang,
dan rakyat ditendang


kudus, 1 juli 2008

Sabtu, 19 April 2008

Kecewa akanmu

Puisi Mita Masymin Araera

Sajak-sajak pertobatanmu sempat kau sodorkan padaku
Tetesan embun suci tak tertahan merembes membasahi kulit putih pipiku
Mengejawentahkan beban-beban yang sempat menghimpit gerak hidupku
Meluberkan angkuhnya batu kesombongan kalbu

Pikirku roda hidup telah berputar
Semua akan kembali semestinya
Kalaupun menangis air matalah yang menjadi saksi bisu
Bilapun senang sesungging senyum akan rela menyaksikan

Namun semua tak kumengerti saat kau proklamirkan pemberontakanmu Didepanberjutapasangmata kau kobarkan amarahmu
Secuil kebencianmu pada kekerasan yang sempat kau lontarkan padaku
Harusnya kau pikirkan kalau aku ini ada meski hanya berbentuk keyakinan tak berwujud


kudus,19 april 2008

Selasa, 11 Maret 2008

Rasa Yang Terdalam

Puisi Wahyu Arzetha

Tak maukah kau tuk menjawabku
Aku yang menyapamu dengan bahasa kasih
Seperti bulan yang menyapa malam
Dengan kelembutan sinarnya
Mungkin ini bukan cinta
Tapi inilah rasa
Dari dasar hati yang terdalam
Sungguh tak lagi aku mengingkarinya
Meski tanpa pengakuan yang nyata

Jepara, 28 Nov. ’07

Selasa, 04 Maret 2008

Menenggak Ruh yang Terpendar

Puisi Zaki Amaly

Etape yang melelahkan
Menguras seisi pikirku
Petang ku dedah
Siang ku hantam
Merobohkan selubung keraguan

Semakin kumerebah
Tanda itu bertambah silau
Ku tak dapat menangkap sinar hangatnya
Ia malah menusuk mata batinku

Ku bangkit dan merengkuh
Tak kuasa menaha perih
Kakiku terusung nyeri
Menjalar selonjor tubuh
Ah…
Patahnya tiada terperi

Hanya tersisa di lorong kesadaran
Terlihat biru keceriaan menenggak
Ruh diriku yang terpendar
Terima kasih Tuhan

Kudus, 1 maret ’08
(Bahauddin)